Home Kesehatan Ibu Hamil Tahu Pola Makan Sehat, tapi Tetap Sulit Menerapkannya

Ibu Hamil Tahu Pola Makan Sehat, tapi Tetap Sulit Menerapkannya

ilustrasi Hazal Ak / Shutterstock - news-medical.net

BUMI SEMPAJA CITY – Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa banyak perempuan di Inggris, baik yang sedang hamil, baru melahirkan, maupun tengah berusaha hamil, sebenarnya memahami pola makan sehat. Namun, mereka masih menghadapi berbagai tantangan yang membuat sulit menjalankannya secara konsisten.

Dilansir dari Medical News, studi kualitatif oleh peneliti dari University of Hertfordshire dan University of Cambridge menganalisis lima kelompok diskusi daring dengan 19 partisipan perempuan. Hasilnya, ditemukan adanya hambatan internal seperti kelelahan dan mual, serta faktor eksternal seperti biaya makanan sehat yang tinggi dan saran kesehatan yang terlalu umum.

Salah satu partisipan menggambarkan dilema tersebut: “Anda ingin makan sehat, apalagi saat hamil. Tapi terkadang, itu tidak mungkin dilakukan.”

Kelelahan, Gejala Kehamilan, hingga Biaya Makanan Sehat

Analisis tematik studi ini menemukan tiga tema utama: tantangan pola makan sehat, faktor pendukung, dan perubahan yang dibutuhkan untuk memberikan dukungan lebih baik.

Banyak responden mengungkapkan istilah “beban ibu”, yakni kelelahan akibat bekerja, mengurus rumah tangga, dan merawat anak lain, yang membuat mereka tak punya energi untuk menyiapkan makanan sehat. Kondisi ini diperparah oleh “tubuh yang melawan”, yakni gejala kehamilan seperti mual, heartburn, dan aversi makanan yang membuat makanan sehat justru terasa menjijikkan.

“Saat kehamilan kedua, saya merasa lebih sulit makan sehat karena saya lelah, bekerja penuh waktu, dan mengurus bayi usia satu tahun. Anak-anak saya lahir cukup berdekatan, jadi itu berat. Lalu saat kehamilan ketiga, saya menyerah berusaha makan sehat karena terlalu lelah dengan dua anak lainnya. Saya sibuk sekali saat itu.”

“Saya pikir saya akan tenang, bisa makan 20 macam sayuran setiap kali makan. Tapi kenyataannya, saya bahkan tidak mau masuk ke dapur.”

Selain faktor fisik, biaya makanan sehat yang lebih mahal dibanding junk food serta saran kesehatan yang terlalu generik juga menjadi hambatan besar. Banyak peserta merasa rekomendasi publik lebih menekankan “apa yang harus dihindari” daripada “apa yang sebaiknya dimakan”, dan jarang menyesuaikan dengan kebutuhan individu, seperti vegetarian atau vegan.

Dukungan Pasangan Jadi Kunci

Meski banyak tantangan, penelitian ini juga menemukan adanya faktor pendukung. Keterampilan perencanaan, dukungan keluarga, serta pasangan yang aktif berbagi tanggung jawab rumah tangga (seperti memasak dan berbelanja) terbukti mampu membantu perempuan menjalani pola makan sehat saat hamil.

Pentingnya Konseling Gizi yang Lebih Personal

Studi ini menyoroti adanya kesenjangan besar antara pedoman gizi dari NHS/otoritas kesehatan Inggris dengan kenyataan di lapangan. Para peneliti menilai, keterlibatan ahli gizi atau dietisien yang bisa memberikan panduan umum sekaligus personal sangat dibutuhkan untuk mendukung kesehatan ibu dan bayi.

Selain itu, waktu pemberian saran juga dinilai penting. Gejala awal kehamilan sering membuat perempuan sulit mengikuti pedoman gizi. Oleh karena itu, para penulis merekomendasikan adanya sumber daya praktis yang relevan secara budaya, misalnya resep sederhana, dukungan meal planning, atau aplikasi digital. Pemerintah juga didorong untuk memperbaiki akses terhadap makanan sehat yang terjangkau.

Seorang partisipan menegaskan: “Saya merasa sebagian perempuan benar-benar kesulitan untuk bisa hamil, dan jika ada kemungkinan bahwa saran diet yang lebih personal bisa membantu, tentu akan sangat bermanfaat dan bahkan bisa menghemat biaya di masa depan.”

 

Ayo wujudkan hunian idaman Anda di Bumi Sempaja City!

Hubungi tim marketing kami untuk informasi lebih lanjut.

Telepon: 0541 220556 / Whatsapp
Website: https://bumisempajacity.co.id/

Yuk Ngobrol
Exit mobile version